Showing posts with label dunia dalam sorotan. Show all posts
Showing posts with label dunia dalam sorotan. Show all posts

Makna Mudik Bagi Pejabat Publik


Oleh David Efendi, Presiden Partai Rakyat Membaca
(1)Mudik sudah menjadi ritual budaya setiap tahun tidak hanya dirayakan oleh ummat Islam semata namun sudah menjadi bagian integral dari denyut nadi anak bangsa dari sabang sampai merauke, dari pulau berpenghuni paling padat sampai pelosok pedalaman yang sepi. Mudik, mengalami perluasan makna menjadi kebudayaan bangsa di mana setiap individu merasakan arti mudik secara kolektif dengan dimensi pemaknaan masing-masing. Ada mudik dengan muka berseri-seri, ada juga yang mengalami kesulitan luar biasa semenjak di perbekalan, finansial, sampai berdesak-desakan di jalan. Kadang justru mengalami kenaasan yang menyedihkan. Kita bisa lihat data tahun lalu yang menurut perhitungan dari beberapa sumber bahwa pada tahun 2010 tercatat sebanyak 1.351 kasus kecelakan selama mudik lebaran, 302 orang meninggal, luka berat 405 orang dan luka ringan sebanyak 826 orang (KPAI, 2011).
(2)Mudik sendiri memang harus disematkan makna di dalamnya bahwa ‘kembali ke fitra’ setelah sebulan digembleng dengan keras dalam ritual bulan ramadan dengan segala kesibukan dan refleksi di dalamnya. Kembali ke fitra artinya mengembalikan hati dan fikiran ke dalam ‘kesucian’ layaknya awal manusia diciptakan. Mudik, selain diartikan membersihkan diri juga menyambung silaturahmi dengan keluarga dan sesama yang mempunyai derajat istimewa dalam ajaran Islam dan agama lainnya sekalipun mempunyai makna sosial yang serupa. Mudik, bisa juga diartikan kembali mempertautkan makna yang ilahiyah dan makna duniawiyah dalam dimensi hablum minallah dan hablum minna nass. Namun ada bebarapa pemaknaan yang berbeda dari fenomena mudik di era serba liberal ini.
(3)Bagi komunitas di kampung-kampung banyak orang tidak merasakan ‘mudik’, karena mudik sejatinya adalah fenomena kelas menengah, para pekerja di kota, dan para pejabat yang ‘reses’ panjang karena bulan mudik ini. Banyak berita menginformasikan, bagaimana para pejabat publik menghabiskan jata pekerjaan/amanah untuk liburan ala mudik ini. Para politisi juga tidak kalah heboh, berbagai model kegiatan dilakukan dalam rangkah menyapa konstituen untuk persiapan pemilu atau pilkada. Inilah faktam bahwa berlebaran tidak melulu aktifitas agama, atau budaya namun juga menjadi ajang ‘pembolosan massal’ atau juga kampanye para pejabat atau calon pejabat publik. Makna mudik, kemudian dapat disimpangsiurkan kedalam berbagai kepentingan.
(4)Jika kita mau refleksi sedikit, loyalitas anak bangsa ini ditentukan oleh minggu lebaran dimana semua orang pesta pora untuk menyenangkan diri masing-masing namun kita bisa melihat bagaimana sosok penjaga pintu air, penjaga palang kereta, polisi, seniman jalanan, tentara di perbatasan, dan para pekerja negara yang tidak bisa libur di hari H lebaran. Merekalah sejatinya para pejuang bangsa yang menyadikan bangsa dan roda ekonomi tetap jalan. Para petani di kampung-kampung juga berhenti hanya ketika sholat dan sehari saja ketika lebaran bahkan ada yang langsung kembali mengurus tanah pertanian. Karena mereka hanya berfikir lebaran bukanlah sesuatu yang perlu dilebih-lebihkan sementara pekerjaan untuk menghidupi api kompor di rumah juga kian mendesak. Berbeda dengan pejabat publik, yang bisa mempopulerkan diri di minggu ‘mudik’ dengan berbagai fasilitas negara mulai mobil dinas, THR, dan sebagainya yang ini tidak dirsakan oleh orang-orang yang tinggal desa.
(5)Lalu bagaimana harus memaknai mudik? bagi pejabat publik yang memang dipilih baik langsung atau tidak langsung oleh rakyat maka prioritas mereka seharusnya adalah untuk kepentingan umum seperti upaya mengurus jalan dan infrastruktur agar tidak terjadi kecelakaan, kekerasan, dan bentuk-bentuk kejahatan lainnya. Janganlah pejabat berkerah putih selalu mempersalahkan operator lapangan ketika terjadi kecelakaan padahal para pejabat publik kelas atasan itu hanya santai-santai di hari lebaran sementara bawahan harus rela tidak bertemu keluarga. Ini adalah satu fenomena bentuk-bentuk pengkambinghitaman terhadap ‘bawahan’. Kesadaran naif, bahwa bawahan selalu salah dan tidak tahu apa-apa sementara atasan adalah tahu segala-galanya dan kebal atas kesalahan harus dibuang jauh. Pejabat publik, mutlak dan aboslut harus bertanggung jawab kepada publik dan karena kita negara yang mengimani tuhan maka gerak dan langkahnya harus pula dapat dipertanggungjawabkan secara seksama dihadapan sang Pencipta.
(6) Tahun ini mudik harus lebih bermakna dan jauh dari malapetaka. Jika para pejabat publik memang amanah tentu segala daya upaya untuk membantu sesama menggapai hakikat mudik haruslah menjadi prioritas utama dari nafsu pribadi untuk merayakan mudik sementara begitu banyak kewajiban disandarkan dipundak para pejabat publik. Mudik juga harus diartikan untuk menjadikan pemerintahan lebih transparan, lebih bijak dan bajik sehingga semua pejabat berkomitmen untuk tidak lagi mengembat fasilitas negara, kekayaan dan aset negara. Mudik harus diartikan sebagai semangat bersama untuk memerangi segala kejahatan termasuk kejahatan koruptor negara. Semoga idul fitri lebih bermakna bagi para pejabat publik dan demi sebesar-besarnya kesejahteraan dan pelayanan publik.
August 24, 2011
Salam,

David Efendi, dua lebaran tidak pulang. Bang Toyib.com

Dalang Zaman Edan, "Negara Paripurna" dan Suatu Kesimpangsiuran

David Efendi
Fenomena alam yang ditunjukkan dengan berbagai jenis 'bencana alam' adalah disinyalir oleh banyak orang sebagai dampak ikutan dari gejala kerusakan cara berfikir manusia memandang alam, memandang manusia itu sendiri. Bencana datang di saat kapitalisme mencapai titik klimaks. Tidak heran, ulat bulu pun mengguncang ibu kota pusat pemerintahan kapitalis Indonesia. Tidak hanya fenomena bencana, berbagai fenomena lainnya seperti fenomena Nurdin Halid, fenomena keistimewaan Yogyakarta, 'legalisasi' korupsi, pengemplangan pajak, menghotelkan penjarah, statemen politisi yang dangkal dan innocent, wisata bui ala gayus, istigasah menjelang UN, Bentrok warga dan polisi, membaca takbir sebelum bunuh diri atau menghabisi nyawa orang lain akhir-akhir ini di tanah air, dan masih banyak lagi 'kegilaan' dan kesalahan berfikir dan bertindak lainnya. Ini bukan fenomena alam biasa, ini sudah menjadi sebuah absurditas jika seorang mimpi meniadakan fenomena manusia Indonesia tersebut. Ini adalah lebih dari dalang edan akhir zaman, tetapi sebuah kesimpangsiuran cara berfikir. Otak sudah kram, dan nafsu yang menggangtikan bagaimana otak itu harus dioperasikan.

Pada kesempatan ini, sederhananya, penulis hendak mengajak diskusi tiga hal yang menurut saya sedikit membantu kita menjalaskan beberapa persoalan akut dan semrawut dalam negeri sendiri mulai dunia sunyi nan gelap para koruptor, radikalisasi agama atau atas nama tuhan sebagai bagian dati fenomena tergerusnya akal sehat dan iman cerdas.Tulisan ini akan dibagi menjadi tiga bagian yang akan dimulai dari siapa dibalaik dalang kehancuran tatanan sosial budaya bangsa, negara paripurna yang terkait isu negara agama dan negara sekuler, dan penjelasan mengenai kesimpangsiuran akal penguasa dan elit negara ini.

Persoalan pertama adalah siapa dalang zaman edan ini? Jika ramalan kalabendu Ronggowarsito atau Joyoboyo benar adanya tentu kita memahami perputaran sejarah kembali jahiliyah di mana hukum moralitas menjadi relatif dan bukan persoalan utama dalam interaksi antar manusia. Siapa kuat dan menang itu satu manifestasi kekuasaan yang biasa kita saksikan di panggung sandiwara tanah air. Hukum memang bisa dibeli dengan biaya yang tidak semua orang bisa membeli, akhirnya segelintir orang yang akan menang dan berhak mengklaim kebenaran di depan hukum negara. Karena sudah hukum alam pemanang adalah satu diantara seribu, atau sedikit sekali sehingga korban pasti berjatuhan di mana-mana. Tanda zaman edan kedua adalah robohnya akhlak para pemimpin atau hilangnya ruh kepemimpinan sebagai instrumen pengabdian menjadi kekusaan yang membutakan. Di samping membutahkan, kekuasaan itu melemahkan manusia dengan berbagai cara dan melanda di semua bidang kehidupan baik sosial, ekonomi, budaya. Masyarakt mikin makin parah dan berat penderitaannya, dan semua tahu akan hal ini termasuk penguasa. Tetapi karena akhlak sudah roboh, tidak ada kewajiban untuk membelah yang lemah dan papa. Kita saksikan perjuangan Prita, para 'pejuang' di KPK, Munir, dan korban ketidakadilan hukum dan kemunafikan kekuasaan lainnya.

Lalu siapa dalangnya? Mungkin semua orang terlibat dalam tragedi kemanusiaan termasuk kita, penontonnya. Sebagaimana Iwan Fals menyindir dalam nyanyiannya bahwa dalang itu semuanya sudah edan (gila), termasuk polisi, dokter, presiden, menteri, wakil rakyat, dan seterusnya termasuk pembaca, termasuk saya. Mungkin. Namun demikian kita terus menanyakan apakah kita bagian dari kegilaan (masalah), atau bagian dari kewarasan (solusi) karena sangat sayang sekali, untuk menjaga kewarasan saja susah, apalagi menawarkan kesembuhan untuk sesama. Kemarin wajar saja, ada status FB teman yang menyatakan: "mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal". Ini psimisme yang sedang melanda, jika tidak ada penawar maka racun mematikan ini akan melumpuhkan Indonesia. Lebih dari ulat bulu.

Kedua adalah bagaimana manifestasi iman dalam keseharian kita. Jika kita merenung dan mempertanyakan diri kita apakah iman itu menjadikan manusia berani mati dan menjadi pengecut dalam hidup? apakah iman lantas membenarkan dalih pembantaian? Apakah Muhammad sang Nabi melakukan serupa kepada orang tidak beriman? Jika iya pun pasti ada konteks misalnya periode perang dan damai karena keluarga beliau saja tetap tidak beriman sampai akhir hayat. Kenyataannya, agama-agama misionaris sangat ingin menunjukkan loyalitas kepada tuhan bahwa mereka membela tuhan dengan berbagai cara termasuk mengkhianati firman/ayat-Nya. Inilah dilema mayoritas yang gampang terancam dalam keadaan paling nyaman dan kuat sekalipun. Ibarat raja hutan mengantuk tetapi merasa banyak ancaman disekelilingnya akhirnya sepanjang hidupnya menaruh curiga kepada warga hutan lainnya yang beragam tersebut.

Bentuk negara kita pancasila, meskipun banyak bilang sistem pemerintahan kita demokrasi sekuler. Pendapat itu tidak ada salahnya tetapi kita tahu ada departemen agama, ada sekolah agama milik pemerintahan, ada agama resmi dan tidak resmi, ada aliran tidak/sesat dan ada yang ekstrem digolongan sesat dan menyesatkan. Inilah salah satu kontributor kekerasan massa akibat negara satu pihak emncampuri tetapi satu pihak 'mendukung' kekerasan secara tidak langsung dengan aturan hukum multitafsir. Kelompok Islam moderat berdalih pancasila sudah final, begitu juga kelompok nasionalis dan agama minoritas, sementara keyakinan agama disebrang lain hanya meyakini bahwa hanya hukum tuhan yang kekal, tidak ada hukum manusia lebih baik dari hukum tuhan. Tidaklah mengherankan jika perdebatan asaspancasila, atau pancasila sebagai ideologi negara tidak pernah ada habisnya dibicarakan. Pahitnya, adalah ketika ini memakan korban manusia tidak bersalah yang dibantai atas nama tuhan, atau dibalik atas nama itu, adalah bentuk kosnpirasi kekuasaan iblis. Lagi pula, negara ini tidak akan pernah paripurna bagi semua orang, kemiskinan baik moral dan ekonomi tetap menjadi persoalan tersendiri selain masalah absurditas elite yang kropos dan hampa dari nilai pengabdian kekuasaan. Maka yang sesungguhnya paripurna adalah, mengutip Syafii Maarif, kehancurannya.

Terakhir dan perlu direnungkan. Ada beberapa kelompok manusia di negeri ini, jumlahnya tidak banyak, tidak lebih dari lima persen dari jumlah penduduk 238 juta. Tetapi mereka menguasasi bisa jadi 80% sumber perekonomian dan penghidupan masyarakat. Jadi, pperan negara yang 'memonopoli hajat hidup orang banyak' sebenarnya sudah lama dialihkan atau diswastakan kepada keluarga atau pemilik perusahaan namun masyarakat tidak menyadarinya. Ketidaksadaran ini karena pemerintah menyembunyikan kebenaran (bohong) demi melanggengkan kekuasaan. Cara berfikir, cara melihat persoalan kerakyatan itu mengalami kesimpangsiuran, tidak bisa membedakan mana pangkal dan ujung masalah. Inilah kenyataan yang sedang kita hadapi, betapa pemerintah kita saat naive jika harus berkorban dan bekerja keras untuk rakyat. Kemenangan di negeri ini adalah kemenangan slogan, kejayaan image para penguasa melalui rekayasa penipuan ala media dan berlindung dibalik angkah-angka dan data statistik untuk mendapatkan apresiasi dunia intrenational (kapitalis global). Kesimpangsiuran berfikir itu melanda juga di masyarakat kita, karena pragmatis nya semua hubungan sosial harus dikomersialkan atau paling tidak ada keuntungan ketika bergabung dalam komunitas tertentu atau berinteraksi dengan orang tertentu dalam keseharian. Wajar dan tidak mengagetkan jika para penguasa itu berusaha sekuat tenaganya melipatgandakan keuntungan ketika korupsi itu bukan tabuh. Korupsi sudah disimpangsiurkan dalam otak para aktifis koruptor menjadi sesuatu yang dilegalkan oleh nurani lantaran berfikir bahwa "jika bukan aku yang mengkorupsi, pasti orang lain yang mempunyai kesempatan akan mengkorupsinya", "mumpung ada kesempatan, mumpung yang lain belum datang menghabiskan,", "itung-itung untuk balik modal pemilu yang lalu dan modal untuk pemilu ke depan." Itulah bentuk kesimpansiuran kenapa korupsi itu melenggang kangkung, karena dalih agama dan moralitas gagal merasuk dalam benak dan otak pelaku.

Parahnya, tidak hanya itu termasuk 'surga' yang manusia hanya punya sedikit pengetahuan itu pun dimonopoli kelompok tertentu dengan mengklaim kebenaran dan atas nama tuhan membumihanguskan kemanusiaan. Inilah sesungguhnya klimak dari kesimpangsiuran berfikir. Kalau pun tobat hari ini, mungkin sudah sangat terlambat?. Too late.

Negara Nyaris Bangkrut itu

12967256362132255273
David Efendi

Dunia terus bersiklus menghadapi takdir dan beserta halang rintang yang dilakukan dan diperbuat manusia. Di satu sisi, orang dulu mengklaim bahawa peradaban muncul dari hilir sungai-sungai besar seperti sungai Nil, Gangga, Eufrat, dan sebagainya. Dari aliran itu falsafat hidup kokoh berdiri dan dipertahankan. Di sisi lain, bangsa-bangsa barat dengan percaya diri bahwa mereka jauh lebih beradab, dengan semangat kapitalisme, baik yang di jiwai atau tidak oleh etika protestan itu mengenalkan kepada dunia system pasar, eskploitasi, kolonilisme, dan imperalisme sampai globalisasi. Karena mereka menemukan tekhnologi lebih dulu, karena itu merasa mempunyai kekuasaan maha besar dibandingkan negara pedalam nan tertinggal jauh (backwardness countries).
Hari berbagai pergolakan dunia terjadi, bara api revolusi kembali mengangga setelah sekian ratus tahun diam di eropa, amerika, dan asia. Semua sedang menunggu kejutan besar. Bumi makin panas, merentah, dan sirna…lenyap, hilang tanpa jasadnya.

Dalam waktu bersamaan, kita lihat beberapa negara “super power ” sedang menuju kebangkrutan hebat. Amerika terjebak hutang nasional luar biasa jumlahnya sampai $14 trilyun (national debt clock-http://zfacts.com/p/461.html). Konon China adalah pemberi pinjaman uang terbesar ke Amerika). Sumber lainnya menyebutkan bahwa Hutang pemerintah Amerika sebesar $11,033,157,578,669.78. Jika semua penduduk Amerika disuruh arisan maka setiap kepala terbebani $36,000, termasuk laki-perempuan, dan anak-anak (http://www.cbsnews.com/8301-503544_162-4872310-503544.html). Hutang Amerika bertambah sebasat $1.72 million setiap menitnya selama waktu yang tidak ditentukan. Anehnya Amerika tetap bisa memberikan pinjaman kepada bangsa miskin lainnya agar bisa survive; anehnya tetap menjadi super power, anehnya, banyak negara yang menghamba kepada Amerika. Tidak bermasksud merendahkan Pak Beye, tetapi faktanya kebijakan pemeirntah Indonesia selalu didekte dan digurui oleh Amerika. Siapa yang meragukan ini?
Begitu juga Jepang yang dianggap bangsa besar juga bangsa penghutang luar biasa dan mengalami persoalan serius mengurus rumah tangga sendiri: aging, birokrasi yang tanpa reputasi, kemunduran perdagangan, dan sebagainya. Tahun 2005, menteri keuangan Jepang mengumumkan bahwa hutang pemerintahnya mencapai 795,8 trillion yen ($7,1 triilion) dan terus mengalami kenaikan; atau jika jumlah tersebut ditanggung setiap penduduknya maka setiap kepala mendapatkan beban sebesar 6.24 million yen atau sebesar $55,900. Hutang ini membebani 160% dari total GDP negara. Sebagai negara industry dan sempat mendapatkan ‘miracle’ pada tahun 1960-an pasca perang dunia 2 (Chalmars Johnson, 1982), tentu ini menghentakkan semua orang.

GDP-Gross domestic product, adalah sebagai indicator penting kesehatan suatu bangsa/negara. Jika hutang yang dimiliki lebih dari 100% dari GDP maka negara tersebut sedang dalam bencana menyambut kematiannya. Kira-kira begitu ekstreemnya. Mari kita lihat data hutang negara dan porsentasi dari GDP: Zimbabwe 304.30 %;  Jepang 192.10 %; Lebanon 160.10; Jamaica 131.70; Singapore 117.60;  Italia 115.20%; Yunani 108.10; Sudan 104.50%; Islandia 100.60%; Amerika 39.70%; Mesir 79.80%; dan Indonesia  29.80 % (http://www.economicshelp.org/blog/economics/list-of-national-debt-by-country/). Nampak, Indonesia masih mending, tetapi potensi untuk terjebak lebih parah sangat besar karena tingkat keparahan hutang Indonesia juga dipengaruhi oleh negara bosnya seperti Amerika, Jepang, dan sebagainya. Singapura yang kelihatannya mentereng juga besar hutangnya!
Secara umum, negara di Asia tenggara hampir semua mengalami persoalan kemiskinan, rawan pangan, dan jebakan hutang. Walau Jepang mengalami kemiskinan relatife serius, toh jepang bisa meminjamkan uangnya ke Indonesia dan negara lebih miskin (based on GDP), sekali lagi, untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Jadi kesimpulannya negara ‘besar’ sangat tergantung negara miskin. Dan apabila negara miskin ini mengalami revolusi rejim, secara massa, menjadikan pemerintah berganti haluan, melakukan nasionalisasi, membangun dictator independen, maka kolaps juga negara seperti Amerika dan sekutunya. Bagi saya, ini adalah hokum alam. Sesuatu yang kelihatan lemah tidak bisa diremehkan. Sebagai bukti, kita melihat Tunisia yang berhasil mengusir diktatornya, Mesir sedang dalam proses meruntuhkan Firun Hosni Mubarak, dan beberapa negara lainnya sedang menunggu hari dimana revolusi ditunjukkan kepada dunia.

Teori institutionalism desain yang saya pelajari tidak bisa menjawab, teori planned rasional atau market oriented dan sebagainya saya kira mungkin karena saya kurang paham atau memang tidak cukup bertenaga menjelaskan keragaman dan kemassifan persoalan yang muncul seluruh negara negara di bumi. Teori kehebatan kapitalisme dengan laissez faire juga amburadul di Amerika ketika bertubi-tubi dihantam badai krisis, dan sementara komunisme juga tercerai berai dan justru melahirkan perbudakan luar biasa di Jernam, Rusia, dan sebagainya (paradok modernitas; sosialisme; komunisme). Negara semakin bercampur tangan atau semakin lepas dari system kehidupan social ekonomi politik keduanya membawa bencana. Bukti kemunculan kapitalisme semu di Asia Tenggara, kegagalan kapitalisme di berbagai negara developed, juga tergunncang nya ekonomi Jepang, Taiwan, dan Korea yang bagi saya menjadi kritik bagi Kunio Yoshihara (1992) yang hanya menempatkan asia tenggara sebagai lading capitalist rented dan tergantung kepada negara.

Apakah ini arus balik zaman? Atau kah ini sedang terjadi revolusi peradaban bumi akibat penuaan yang menjadikan iklim panas dan pikiran terbakar? Atau keadilan sedang menunjukkan jati dirinya sebagai hukum alam setelah hokum manusia yang timpang, terseok, dan roboh di tangan para penguasa? Tidak ada teori yang mutlak bisa menjelaskan fenemena ini. Apakah ini menjadai justifikasi bahwa 2012 adalah akhir kehidupan di planet bumi? Saya hanya bisa mengatakan bahwa mungkin dengan pertanda berbagai kekacauan di bumi manusia ini mengamini ramalan qiamat tahun depan, 2012. Wallahu ‘alam.

Feb 3, 2011

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme